Minggu, 01 April 2012

TEORI BISNIS

 
SEPUTAR TEORI BISNIS KONVENSIONAL

 
Sistem Informasi Bisnis
Ø Bisnis→berasal dari business →busy →sibuk
Ø “Sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan”
Ø “suatu organisasi yang menjual barang atau jasa kepada konsumen atau bisnis lainnya”(ilmu ekonomi)
Ø Konteks: individu, komunitas ataupun masyarakat

Pengertian dan Fungsi Bisnis
Ø Bisnis dalam arti luas adalah istilah umum yang menggambarkan semua aktifitas dan institusi yang memproduksi barang & jasa dalam kehidupan sehari-hari.
Ø Bisnis sebagai suatu system yang memproduksi barang dan jasa untuk memuaskan kebutuhan masyarakat (bussinessis then simply a system that produces goods and service to satisfy the needs of our society) [Huat, T Chwee,1990]
Ø Bisnis merupakan suatu organisasi yang menyediakan barang atau jasa yang bertujuan untuk mendapatkan keuntungan [Griffin & Ebert]

Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa
Ø Bisnis adalah kegiatan yang dilakukan oleh individu dan sekelompok orang (organisasi) yang menciptakan nilai (create value) melalui penciptaan barang dan jasa (create of good and service)  untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memperoleh keuntungan melalui transaksi.

Aspek-aspek bisnis:
Ø Kegiatan individu dan kelompok
Ø Penciptaan nilai
Ø Penciptaan barang dan jasa
Ø Keuntungan melalui transaksi

Fungsi bisnis dilihat dari kepentingan mikro ekonomi dan makro ekonomi
1.    Fungsi Mikro Bisnis
Kontribusi terhadap pihak yang berperan langsung
Ø Pekerja/ Karyawan
Pekerja menginginkan gaji yang layak dari hasil kerjanya sementara manajer menginginkan kinerja yang tinggi yang ditunjukkan besarnya omzet penjualan dan laba.
Ø Dewan Komisaris
Memantau kegiatan dan mengawasi manajemen, memastikan kegiatan akan berjalan mencapai tujuan.
Ø Pemegang Saham
Pemegang saham memiliki kepentingan dan tanggung jawab tertentu terhadap perusahaan.

2.    Fungsi Makro Bisnis
Kontribusi terhadap pihak yang terlibat secara tidak langsung
Ø Masyarakat sekitar perusahaan
Memberikan kontribusi kepada masyarakat sekitar sebagai bentuk tanggung jawab perusahaan.
Ø Bangsa dan Negara
Tanggung jawab kepada bangsa dan Negara yang wujudkan dalam bentuk kewajiban membayar pajak Kontribusi terhadap pihak yang terlibat secara tidak langsung

Elemen dan Sistem Bisnis
Ø Modal (capital)
Sejumlah uang yang digunakan dalam menjalankan kegiatan bisnis.
Ø Bahan-bahan (materials)
Merupakan factor produksi yang diperlukan dalam melaksanakan aktifitas bisnis untuk diolah menghasilkan barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat.
Ø Sumber Daya Manusia (SDM)
Kualifikasi SDM: Memiliki kemampuan kompetitif dan berkualitas tinggi.
Ø Ketrampilan Manajemen (Management Skill)
Sistem manajemen yang dijalankan berdasarkan prosedur dan tata kerja manajemen.

Karakteristik Sistem Bisnis
Ø Kompleksitas & keanekaragaman
Ø Saling ketergantungan
Ø Perubahan dan inovasi

Jenis Kegiatan Bisnis : Production  - Distribution - Consumption

Bentuk dasar kepemilikan bisnis :  Perusahaan perseorangan, persekutuan, perseroan, koperasi.

KEWIRAUSAHAAN
Wirausaha adalah seseorang pembuat keputusan yang membantu terbentuknya system ekonomi perusahaaan yang bebas. Karir kewirausahaan dapat mendukung kesejahteraan masyarakat, menghasilkan imbalan financial yang nyata. Wirausaha di berbagai industry membantu perekonomian dengan menyediakan pekerjaan dan memproduksi barang dan jasa bagi konsumen dalam negeri maupun di luar negeri. Meskipun perusahaan raksasa menarik perhatian banyak publik akan tetapi bisnis kecil dan kegiatan kewirauasahaannya setidaknya memberikan andil nyata bagi kehidupan sosial dan perekonomian dunia.

IMBALAN DALAM WIRAUSAHA
Tiap orang tertarik kepada kewirausahaan kerena berbagai imbalan yang dapat dikelompokkan dalam tiga kategori dasar : Laba, Kebebasan, dan kepuasan dalam menjalani hidup.

Ø  IMBALAN BERUPA LABA
Wirausaha mengharapkan hasil yang tidak hanya mengganti kerugian waktu dan uang yang diinvestasikan tetapi juga memberikan imbalan yang pantas bagi resiko dan inisiatif yang mereka ambil dalam mengoperasikan bisnis mereka sendiri. Dengan demikian imbalan berupa laba merupakan motifasi yang kuat bagi wirausaha tertentu. Laba adalah salah satu cara dalam mempertahankan nilai perusahaan. Beberapa wirausaha mungkin mengambil laba bagi dirinya sendiri atau membagikan laba tersebut, tetapi kebanyakan wirausaha puas dengan laba yang pantas.

Ø  IMBALAN KEBEBASAN
Kebebasan untuk menjalankan perusahaannya merupakan imbalan lain bagi seorang wirausaha. Hasil survey dalam bisnis berskala kecil tahun 1991 menunjukkan bahwa 38% dari orang-orang yang meninggalkan pekerjaan nya di perusahaan lain karena mereka ingin menjadi bos atas perusahaan sendiri. Beberapa wirasuaha menggunakan kebebasannya untuk menyusun kehidupan dan perilaku kerja peribadinya secara fleksibel. Kenyataannya banyak wirausaha tidak mengutamakan fleksibiltas disatu sisi saja. Akan tetapi wirausaha menghargai kebebasan dalam karir kewirausahaan, seperti mengerjakan urusan mereka dengan cara sendiri, memungut laba sendiri dan mengatur jadwal sendiri.

Ø  IMBALAN BERUPA KEPUASAN DALAM MENJALANI HIDUP
Wirausaha sering menyatakan kepuasan yang mereka dapatkan dalam menjalankan bisnisnya sendiri. Pekerjaan yang mereka lakukan memberikan kenikmatan yang berasal dari kebebasan dan kenikmatan ini merefleksikan pemenuhan kerja pribadi pemilik pada barang dan jasa perusahaan. Banyak perusahaan yang dikelolah oleh wirausaha tumbuh menjadai besar akan tetapi ada juga yang relative tetap berskala kecil.

TANTANGAN BERWIRAUSAHA
Meskipun imbalan dalam berwirasuaha menggiurkan, tapi ada juga biaya yang berhubungan dengan kepemilikan bisnis tersebut. Memulai dan mengoperasikan bisnis sendiri membutuhkan kerja keras, menyita banyak waktu dan membutuhkan kekuatan emosi. Kemungkinan gagal dalam bisnis adalah ancaman yang selalu ada bagi wirausaha, tidak ada jaminan kesuksesan. Wirausaha harus menerima berbagai resiko berhubungan dengan kegagalan bisnis. Tantangan berupa kerja keras, tekanan emosional, dan risiko meminta tingkat komitmen dan pengorbanan jika kita mengharapkan mendapatkan imbalan.

KARAKTERISITK WIRAUSAHA
Sikap dan Perilaku sangat dipengaruhi oleh sifat dan watak yang dimiliki oleh seseorang. Sifat dan watak yang baik, berorientasi pada kemajuan dan positif merupakan sifat dan watak yang dibutuhkan oleh seorang wirausahawan agar wirausahawan tersebut dapat maju/sukses. Gooffrey G. Meredith (1996; 5-6) mengemungkakan ciri-ciri dan watak kewirausahaan seperti berikut :
Ciri-ciri
Watak
1.     Percaya Diri
2.     Berorientasikan tugas dan hasil.
3.     Pengambil Resiko.
4.     Kepemimpinan.

5.     Keorisinilan.

6.     Berorientasi ke masa depan.
7.      Jujur dan tekun
1.     Keyakinan, kemandirian, individualitas, optimisme.
2.     Kebutuhan akan prestasi, berorientasi pada laba, memiliki ketekunan dan ketabahan, memiliki tekad yang kuat, suka bekerja keras, energik dan emiliki inisiatif.
3.     Memiliki kemampuan mengambil resiko dan suka pada tantangan.
4.     Bertingkah laku sebagai pemimpin, dapat bergaul dengan orang lain dan suka terhadap saran dan kritik yang membangun.
5.     Memiliki inovasi dan kreativitas tinggi, fleksibel, serba bisa dan memiliki jaringan bisnis yang luas.
6.     Persepsi dan memiliki cara pandang/cara pikir yang berorientasi pada masa depan
7.     Memiliki keyakinan bahwa hidup itu sama dengan kerja

Pendapat lain M. Scarborough dan Thomas W. Zimmerer (1993; 6-7 ) mengemungkakan delapan karakteristik yang meliputi :
1. Memiliki rasa tanggung jawab atas usaha-usaha yang dilakukannya.
2. Lebih memilih risiko yang moderat.
3. Percaya akan kemampuan dirinya untuk berhasil.
4. Selalu menghendaki umpan balik yang segera.
5. Berorientasi ke masa depan, perspektif, dan berwawasan jauh ke depan.
6. Memiliki semangat kerja dan kerja keras untuk mewujudkan keinginannya demi masa depan yang lebih baik.
7. Memiliki ketrampilan dalam mengorganisasikan sumber daya untuk menciptakan nilai tambah.
8. Selalu menilai prestasi dengan uang.

Wirausaha selalu komitmen dalam melakukan tugasnya sampai berhasil. Ia tidak setengah-setengah dalam melakukan pekerjaannya. Ia berani mengambil resiko terhadap pekerjaannya karena sudah diperhitungkan artinya risiko yang di ambil tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah. Keberanian menghadapi risiko yang didukung oleh komitmen yang kuat, mendorong wirausaha untuk terus berjuang mencari peluang sampai ada hasil. Hasil-hasil ini harus nyata/jelas dan objektif dan merupakan umpan balik bagi kelancaran kegiatannya. Dengan semangat optimis yang tingggi karena ada hasil yang diperoleh, maka uang selalu dikelolah secara proaktif dan dipandang sebagai sumber daya.

Dalam mencapai keberhasilannya, seorang wirausaha memiliki ciri-ciri tertentu pula. Dalam Enterpreneurship and Small Enterprise Development Report (1986) yang dikutip oleh M. Scarborough dan Thomas W. immerer 1993;5) dikemungkinan beberapa karakteristik kewirausahaan yang berhasil, diantaranya memiliki ciri-ciri :
1.     Proaktif, yaitu berinisiatif dan tegas.
2.     Berorientasi pada prestasi, yang tercermin dalam padangan dan bertindak terhadap peluang, orientasi efisiensi, mengutamakan kualitas pekerjaan, berencana, dan mengutamakan monitoring.
3.     Komitmen kepada orang lain, misalnya dalam mengadakan kontrak dan hubungan bisnis.

Berpikir Kreatif dalam Kewirausahaan
Menurut Zimmererr (1996) untuk mengembangkan ketramplan berfikir, seseorang menggunakan otak sebelah kanan. Sedangkan untuk belajar mengembangkan ketrampilan berpikir digunakan otak sebelah kiri, ciri-cirinya :

·       Selalu bertanya : Apa ada cara yang lebih baik?
·       Selalu menantang kebiasaan, tradisi dan kebiasaan rutin
·       Mencoba untuk melihat masalah dari perspektif yang berbeda
·       Menyadari kemungkinan banyak jawaban ketimbang satu jawaban yang benar
·       Melihat kegagalan dan kesalahan sebagai jalan untuk mencapai sukses
·       Mengkorelasikan ide-ide yang masih samar terhadap masalah untuk menghasilkan pemecahan inovasi
·       Memiliki ketrampilan helicopter yaitu kemampuan untuk bangkit di atas kebiasaan rutin dan melihat permasalahan dari perspektif yang lebih luas kemudian memfokuskannnya pada kebutuhan untuk berubah.


RUANG LINGKUP BISNIS
PENGERTIAN EKONOMI
ü Menurut Musselem dan Hughes : “ Ekonomi adalah ilmu yang mempelajari cara masyarakat mengalokasikan sumber-sumber yang terbatas untuk keperluan produksi dan distribusi barang dan jasa.”
ü Menurut Willian F School (1993 : 17), “Ekonomi adalah study ilmu yang menganalisa kegiatan orang dalam hubungan dengan memproduksi, menabubg dan membelanjakan uangnya.”
ü Jadi : kalau berbicara manusia utuk memenuhi kebutuhan hidup berarti membicarakan masalah ekonomi.
ü Jadi Ilmu ekonomi : ilmu yang mempelajari masyarakat dalam usaha mencapai kemamuran.
ü Kemamkuran : suatu keadaan dimana manusia dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan barang dan jasa. == memerlukan pengorban.

PENGERTIAN BISNIS
ü Perusahaan: suatu organisasai produksi yang menggunakan dan mengkoordinir sumber-sumber ekonomis untuk memuaskan kebutuhan dengan cara yang menguntungkan .
ü usaha perusahaan = bisnis
ü Menurut Hughes dan Kapoor menyatakan: “Businiss in the organized effort up individuals to produco and sell for a profit, the goods and services that satisfy society’s need. The general term busines refers to all such efforti within a socienty or within and industry”.  “Bisnis adalah suatu kegiatan usaha individu yang terorganisasi untuk menghasilkan dan menjual barang dan jasa guna mendapatkan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan masyarakat. Secara umum kegiatan ini ada dalam masyarakat dan ada dalam industri”.
ü Entrepreneur: Orang yang berusaha menggunakan uang dan waktunya dengan menanggung resiko dalam menjalankan kegiatan bisnis. Untuk menjalankan kegiatannya harus mengkombinasikan empat macam sumber ekonomi/faktor-faktor produksi :
1.     Sumber daya alam /material
2.     Sumber daya manusia
3.     Modal
4.     Managerial skill
ü Definisi tersebut ada 5 (lima) unsur :
1.     Organisasi
2.     Produksi
3.     Sumber Ekonomi
4.     Kebutuhan
5.     Cara yang menguntungkan

v Organisasi:  merupakan alat dan wadah tempat manajer melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
v Produksi: Semua usaha di tujukan untuk menciptakan atau menaikan fedah (utility).
?  Produksi Langsung: Usaha-usaha untuk menghasilkan atau mendapatkan barang secara langsung. Meliputi :
1.       Produksi Primer (Ekstraktif): usaha-usaha untuk mendapatkan bahan2/material dari alam/seperti pertanian, perikanan, pertambangan.
2.       Produksi Sekunder: usaha-usaha menggunakan bahan-bahan atau material untuk meningkatkan paedah atau mengolahnya menjadi batrang lain. Misalnya : pembuatan kapal, gedung, dll.

?  Kegiatan yang membantu produksi langsung: yaitu produksi tersier meliputi perdagangan (perdagangan besar, perdagangan kecil, impor dan ekspor) dan kegiatan lainnya seperti : distribusi, perbankan, perasuransian, penelitian pasar dan periklanan.
?  Produksi tidak langsung: tidak menaikan nilai penggunaan ataupuntidak langsung dari alam tetapi memberikan jasa-jasa yang sangat berguna bagi perusahaan. Contoh : akuntan, ilmuwan, polisi,dll.

v  Sumber-sumber ekonomi/faktor-faktor produksi :
(1) Faktor produksi alam (materian/bahan baku)
(2) Faktor produksi modal (dana, mesin, gedung)
(3) Faktor produks manusia (tenaga kerja)
(4) Faktor produksi mangerial skill

v  Kebutuhan : Buku : Dr. Basu Swasta DH, SE,MBA ., Ibnu Sutjoco W,SE., “Pengantar Bisnis “ hal 7.
v  Cara yang menguntungkan : cara yang ditempuh tersebut harus memperhatika prinsip-prinsip efisiensi.
Cara yang ditempuh berbeda berdasarkan :
(1) Bidang operasi
(2) Alat produksi
(3) Tujuan perusahaan

Tujuan yang akan dicapai perusahaan bermacam-macam a.l. :
1.       Keuntungan maksimal : pendapatan maksimal bagi invertor dapat terealisir bilama perusahaan dapat memperoleh keuntungan maksimal.
Laba bagi perusahaan sabgat membantu tercapainya tujuan-tujuan lain a.l. :
- Kelangsungan hidup
- Pertumbuhan perusahaan
- Prestise.

2.     Kesejahteraan anggota
contoh : koperasi

3.     Kesejahteraan masyarakat
contoh : PLN, PAM, BULOG, PERUMNAS

Proses bisnis : Bermula dari konsumen sebagai sumber faktor produksi dan berakhir pada konsumen juga (sebagai pembeli hasil produksi).


SEJARAH PERKEMBANGAN BISNIS
ü  Bermula dari memenuhi kebutuhannya sendiri, tidak tergantung kepada orang lain.
ü  Barter: kegiatan perdagangan dilakukan setelah masing-masing keluarga merasakan kelebihan orang/ peralatan yang dibutuhkan sehingga dapat ditukar dengan barang jasa lain dari tetangganya.
ü  Pembagian kerja menrut jenis kebutuhannya. Adanya pemisahan Rumah Tangga Produksi dan Rumah Tangga Konsumen.
ü  Revolusi Industri yang membawa perubahansecara drastis dan sangat penting, Contoh : Pertanian menggunakan bajak Tenaga sapi, kerbau = diganti dengan traktor, buldoser.
ü  Zaman Globalisasi:  persaingan bisnis perusahaan nasional, multi nasional, perdagangan antar bangsa, yang berebut menguasai pasar dunia dalam bidang barang dan jasa.

FAKTOR-FAKTOR KONTINUITAS BISNIS :
1.       Likuiditas, yaitu kemampuan bisnis membayar utang-utang pada saat jatuh tempo. Likuiditas juga berarti mampu menjaga kelancaran proses produksi agar suplai hasil produksinya lancar.
2.       Salvabilitas, yaitu berusaha agar modal sendiri (asset) bisnis lebih besar dari utangnya.
3.       Soliditas,  yaitu kemampuan bisnis untuk memperoleh kepercayaan dari masyarakat kepercayaan meliputi moral pengelola bisnis, tepat dalam berjajnji dan dipercaya dalam bidang keuangan.
4.       Rentabilitas, yaitu bisnis mampu memperoleh keuntungan yang layak, tidak merugi.
5.       Credit Waardigheid, artinya bisnis dipercaya sehingga layak memperoleh kredit pinjaman.

ETIKA DALAM DUNIA BISNIS
Dunia bisnis yang bermoral akan mampu mengembangkan etika (patokan/rambu-rambu) yang menjamin kegiatan bisnis yang seimbang, selaras, dan serasi.  Dalam menciptakan etika bisnis, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain ialah:  
1.         Pengendalian diri
         Artinya, pelaku-pelaku bisnis dan pihak yang terkait mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang dan menekan pihak lain dan menggunakan keuntungan dengan jalan main curang dan menakan pihak lain dan menggunakan keuntungan tersebut walaupun keuntungan itu merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya.

2.         Pengembangan tanggung jawab sosial (social responsibility)
         Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk "uang" dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya.

3.         Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi
         Bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.

4.         Menciptakan persaingan yang sehat
         Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya, harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.

5.         Menerapkan konsep “pembangunan berkelanjutan"
         Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa mendatang. Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-"ekspoitasi" lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.

6.         Menghindari sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)
         Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

7.         Mampu menyatakan yang benar itu benar
         Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan "katabelece" dari "koneksi" serta melakukan "kongkalikong" dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi" serta memberikan "komisi" kepada pihak yang terkait.

8.         Menumbuhkan sikap saling percaya antara golongan pengusaha kuat dan golongan pengusaha kebawah
         Untuk menciptakan kondisi bisnis yang "kondusif" harus ada saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah agar pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.
9.         Konsekuen dan konsisten dengan aturan main yang telah disepakati bersama
         Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada "oknum", baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan "kecurangan" demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan "gugur" satu semi satu.
10.     Menumbuhkembangkan kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati
         Jika etika ini telah memiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.
11.     Perlu adanya sebagian etika bisnis yang dituangkan dalam suatu hukum positif yang berupa peraturan perundang-undangan
         Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti "proteksi" terhadap pengusaha lemah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar